Stress dan Kesehatan
STRES DAN KESEHATAN
Ada tiga kategori sumber
potensial stres yaitu faktor lingkungan (ketidakpastian ekonomi, politik,
teknologi), faktor organisasional (tuntutan tugas, peran dan hubungan antar
pribadi; struktur, kepemimpinan dan tahap hidup organisasi), faktor individu
(masalah keluarga, ekonomi dan kepribadian). Apakah faktor-faktor ini mengarah
ke stres yang aktual bergantung pada perbedaan individual seperti pengalaman
kerja dan kepribadian. Bila stres dialami oleh seorang individu, gejalanya
dapat muncul sebagai keluaran fisiologis (sakit kepala, tekanan darah tinggi,
penyakit jantung), psikologis (kecemasan, murung, berkurangnya kepuasan kerja),
dan perilaku (produktivitas, kemangkiran, tingkat keluarnya karyawan).
Dalam mengelola stres ada 2
pendekatan yang bisa diterapkan yaitu pendekatan individu dan organisasional.
Pendekatan individual mencakup pelaksanaan teknik manajemen waktu, meningkatkan
latihan fisik, pelatihan relaksasi dan perluasan jaringan dukungan sosial.
Pendekatan organisasional mencakup perbaikan seleksi personil dan penempatan
kerja, penempatan tujuan yang realistis, perancangan ulang pekerjaan,
peningkatan keterlibatan karyawan, perbaikan komunikasi organisasi dan
pelaksanaan program kesejahteraan.
Sumber potensial
stres : lingkungan, organisasional dan individual.
Faktor
Lingkungan. Seperti ketidakpastian lingkungan mempengaruhi desain dari struktur
suatu organisasi, ketidakpastian itu juga mempengaruhi tingkat stres di
kalangan para karyawan dalam organisasi tersebut. Perubahan dalam siklus bisnis
menciptakan ketidakpastian ekonomi. Bila ekonomi itu mengerut, orang menjadi
makin mencemaskan keamanan mereka. Ketidakpastian politik seperti ancaman
sparatisme dan perubahan politik dapat menyebabkan stres. Ketidakpastian
teknologi merupakan tipe ketiga yang dapat menyebabkan stres. Karena
inovasi-inovasi baru dapat membuat keterampilan dan pengalaman seorang karyawan
menjadi ketinggalan dalam periode waktu yang sangat singkat, komputer, robot,
otomatisasi dan ragam-ragam lain dari inovasi teknologi merupakan ancaman bagi
banyak orang dan menyebabkan mereka stres.
Faktor
Organisasi. Banyak sekali faktor di dalam organisasi yang dapat menimbulkan
stres. Tekanan untuk menghindari kekeliruan atau menyelesaikan tugas dalam
suatu kurun waktu yang terbatas, beban kerja yang berlebihan, seorang bos yang
menuntut dan tidak peka serta rekan sekerja yang tidak menyenangkan merupakan beberapa
contoh. Kita telah mengkategorikan faktor-faktor ini di sekitar tuntutan tugas,
tuntutan peran, tuntutan hubungan antar pribadi, struktur organisasi,
kepemimpinan organisasi dan tingkat hidup organisasi.
Tuntutan
tugas merupakan faktor yang dikaitkan pada pekerjaan seseorang. Faktor ini
mencakup desain pekerjaan individu (otonomi, karagaman tugas, tingkat
otomatisasi), kondisi kerja dan tata letak kerja fisik.
Tuntutan
peran berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai suatu
fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam organisasi itu. Konflik peran
menciptakan harapan-harapan yang barangkali dirujukkan atau dipuaskan. Peran
yang kelebihan beban terjadi bila karyawan diharapkan untuk melakukan lebih
daripada yang dimungkinkan oleh waktu. Ambiguitas peran muncul bila harapan
peran tidak dipahami dengan jelas dan karyawan tidak pasti mengenai apa yang
harus dikerjakan.
Tuntutan
antar pribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan lain. Kurangnya
dukungan sosial dari rekan-rekan dan hubungan antar pribadi yang buruk dapat
menimbulkan stres yang cukup besar khususnya diantara para karyawan dengan
kebutuhan sosial yang tinggi. Beberapa eksekutif senior menciptakan suatu
budaya yang dicirikan oleh ketegangan, rasa takut dan kecemasan. Mereka
membangun tekanan yang tidak realistis untuk berkinerja dalam jangka pendek,
memaksakan pengawasan yang sangat ketat dan secara rutin memecat karyawan yang
tidak dapat "mengikuti".
Faktor
Individual. Kategori ini mencakup faktor-faktor dalam kehidupan pribadi
karyawan seperti persoalan keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik
kepribadian bawaan. Survei nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang
menganggap hubungan pribadi dan keluarga sebagai sangat berharga. Kesulitan
pernikahan, pecahnya suatu hubungan dan kesulitan disiplin pada anak-anak
merupakan contoh masalah hubungan yang menciptakan stres bagi para karyawan dan
terbawa ke tempat kerja.
Masalah
ekonomi yang diciptakan oleh individu yang terlalu merentangkan sumber daya
keuangan mereka merupakan suatu perangkat kesulitan pribadi lain yang dapat
menciptakan stres bagi karyawan dan mengganggu perhatian mereka terhadap kerja.
Konsekuensi Stres
Stres
muncul dalam sejumlah cara yang dikelompokkan dalam tiga kategori umum : gejala
fisiologis, psikologis dan perilaku.
Gejala Fisiologis. Stres dapat menciptakan perubahan dalam metabolisme, meningkatkan laju detak jantung dan pernafasan, meningkatkan tekanan darah, menimbulkan sakit kepala dan menyebabkan tekanan jantung.
Gejala Psikologis. Stres dapat
menyebabkan ketidakpuasan. Stres yang berkaitan dengan pekerjaan dapat
menimbulkan ketidakpuasan yang berkaitan dengan pekerjaan. Memang itulah efek
psikologis yang paling sederhana dan paling jelas dari stres itu. Tetapi stres
muncul dalam keadaan psikologis lain misalnya ketegangan, kecemasan, mudah
marah, kebosanan dan suka menunda-nunda. Terbukti bahwa bila orang ditempatkan
dalam pekerjaan yang mempunyai tuntutan ganda dan berkonflik atau dimana kurang
adanya kejelasan mengenai tugas, wewenang dan tanggung jawab pemikul pekerjaan,
stres dan ketidakpuasan akan meningkat.
Gejala
Perilaku. Gejala stres yang dikaitkan dengan perilaku mencakup perubahan dalam
produktivitas, absensi, tingkat keluarnya karyawan juga perubahan dalam
kebiasaan makan, meningkatnya merokok dan konsumsi alkohol, bicara cepat,
gelisah dan gangguan tidur. Stres pada tingkat rendah sampai sedang merangsang
tumbuh dan meningkatkan kemampuan untuk bereaksi. Pada saat itulah individu
sering melakukan tugasnya dengan lebih baik, lebih intensif atau lebih cepat.
Tetapi terlalu banyak stres menempatkan tutuntan yang tidak dapat dicapai atau
kendala pada seseorang yang mengakibatkan kinerja menjadi lebih rendah.
Mengelola Stres
Dari
titik pandang organisasi, manajemen mungkin tidak perduli bila karyawan
mengalami tingkat stres yang rendah sampai sedang. Alasannya adalah bahwa
tingkat semacam itu dapat bersifat fungsional dan mendorong ke kinerja karyawan
yang lebih tinggi. Tetapi tingkat stres yang tinggi atau tingkat rendah tetapi
berkepanjangan dapat mendorong ke kinerja karyawan yang menurun dan karenanya
menuntut tindakan dari manajemen. Ada dua pendekatan yang bisa dipakai dalam
mengelola stres yaitu pendekatan individual dan pendekatan organisasional.
Pendekatan
Individual. Seorang karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk
mengurangi tingkat stresnya. Strategi individu yang telah terbukti efektif
mencakup pelaksanaan teknik-teknik manajemen waktu, meningkatkan latihan fisik,
pelatihan relaksasi dan perluasan jaringan dukungan sosial. Mempunyai teman,
keluarga atau rekan sekerja untuk diajak bicara memberikan suatu saluran keluar
bila tingkat stres menjadi berlebihan. Artinya dukungan yang tinggi mengurangi
kemungkinan bahwa stres kerja yang berat akan mengakibatkan hilangnya semangat
kerja.
Pendekatan
Organisasional. Beberapa faktor yang menyebabkan stres – terutama tuntutan
tugas dan peran, dan struktur organisasi – dikendalikan oleh manajemen. Dengan
demikian faktor-faktor ini dapat dimodifikasi atau diubah. Strategi yang
mungkin diinginkan oleh manajemen untuk dipertimbangkan antara lain : perbaikan
seleksi personil dan penempatan kerja, penggunaan penempatan tujuan yang
realistis, perancangan ulang pekerjaan, peningkatan keterlibatan karyawan,
perbaikan komunikasi organisasi, dan pelaksanaan program kesejahteraan
perusahaan. Secara khusus mengadakan lokakarya untuk membantu orang berhenti
merokok, mengendalikan penggunaan alkohol, mengurangi bobot tubuh, makan dengan
lebih baik dan mengembangkan suatu program latihan yang teratur. Pengandaian
yang mendasari kebanyakan program kesejahteraan adalah bahwa para karyawan
perlu memikul tanggung jawab pribadi untuk kesehatan fisik dan mental mereka.
Organisasi sekedar merupakan wahana untuk memudahkan tujuan akhir ini.
PERBANDINGAN TEORI
Penulis
menggunakan teori utama berupa stres model transaksional yang dicetuskan oleh
Jovanovic, Lazaridis, dan Stefanovic. Teori model transaksional merupakan teori
yang berfokus pada respon emosi dan proses kognitif individu.
Teori stres terus berkembang dari masa
ke masa, tetapi secara fundamental teori stres hanya digolongkan atas tiga
pendekatan. Tiga pendekatan terhadap teori stres tersebut adalah:
1.
Stres model Stimulus (rangsangan)
2.
Stres model Response (respons)
3.
Stres model Transactional
(transaksional)
(Bartlett, 1998: Lyon, 2012).
|
Stres Model Stimulus (Rangsangan) |
Stres Model Response (Respon) |
Stres Model Transactional (Transraksional) |
|
Stres stimulus lebih
memfokuskan pada sumber - sumber stres dari pada aspek-aspek
lainnya. Sumber stres tersebut dikenal dengan istilah “stressor”. Cara
kerja dari stressor ini adalah memberikan sebuah rangsangan,
tekanan, dan dorongongan sehingga seseorang dapat mengalami stres. Jadi stressor inilah
yang berperan sebagai penyebab stres pada seseorang. (Bartlett 1998) |
Stres merupakan reaksi atau tanggapan
tubuh yang secara spesifik terhadap penyebab stres (stressor) yang
mana hal tersebut memberikan pengaruh kepada seseorang. Lyon (2012)
mengistilahkan reaksi tubuh terhadap sumber stress sebagai variable terikat
atau hasil. Hasil stres itupun meliputi perubahan kondisi psikis, emosional,
dan psikologis (Carr & Umberson, 2013). Misalnya, ketika seseorang
mengalami situasi yang mengkhawatirkan, tubuh secara spontan bereaksi
terhadap ancaman tersebut. Ancaman tersebut termasuk sumber stres, dan
respons tubuh terhadap ancaman itu merupakan stres respons atau dengan kata
lain, tubuh tidak akan memberikan respon apapun kalau tidak ada rangsangan.
Oleh karena itu, stres respons dapat disimpulkan sebagai reaksi tubuh secara
jasmaniah terhadap sumber-sumber stres yang ada atau rangsangan yang
menyerang tubuh. (Scheneidrman, Ironson & Siegel, 2005). |
Stres model transaksional berfokus
pada respon emosi dan proses kognitif yang mana didasarkan pada interaksi
manusia dengan lingkungan (Jovanovic, Lazaridis & Stefanovic, 2006). Atau
dengan kata lain, stres model ini menekankan pada peranan penilaian individu
terhadap penyebab stres yang mana akan menentukan respon individu tersebut
(Staal, 2004). Lebih
lanjut Lazarus Folkman menyatakan bahwa stres adalah hasil
dari terjadinya transaksi antara individu dengan penyebab stres yang
melibatkan proses pengevaluasian (Dewe et al., 2012). |
Referensi :
Nasib
Tua Lumban Gaol. 2016. Teori Stres : Stimulus, Respons, dan Transaksional. Jurnal
Buletin Psikologi. Vol. 24 No. 1
Goliszek,
Andrew. 2005. 60 Second Management Stress. Jakarta: PT Buana Ilmu Populer.
Walia.
2005. Hidup Tanpa Stres. Jakarta: Bina Ilmu Populer.
===============================================
Jangan lupa tinggalkan jejak, h3h3
Instagram : Mega Widya (@immegaw) • Instagram photos and videos
Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCnWgO0A8YQLuUAdYjWYzSSw
TikTok : https://www.tiktok.com/@airahime?is_from_webapp=1&sender_device=pc
Comments
Post a Comment