Mengenal Pola Asuh Otoritatif - Parenting
Hallo Great People! Pagi ini mimin bawain materi yang super spesial untuk temen Gen Z yang udah kebelet pengen jadi orang tua, tapi pengen memutus pola perilaku pengasuhan orang tua terdahulu, judulnya Mengenal Pola Asuh Otoritatif! Take your coffee and enjoy ya!
Pola asuh otoritatif disebut juga dengan pola asuh “demokratis” atau
mencari jalan tengah. Jika ditelaah, otoritatif adalah pola asuh yang paling
efektif dan bermanfaat bagi anak. Penelitian menunjukkan bahwa peran orangtua
fleksibel saat menerapkan pola asuh ini berdasarkan tujuan pribadi dan perilaku
unik setiap anak.
Dalam pola asuh ini, orangtua memberi kebebasan disertai bimbingan pada
anak. Anak akan diberi masukan dan arahan sebelum bertindak. Orangtua juga akan
menjawab pertanyaan anak dengan bijak dan terbuka, karena orangtua menganggap
hak dan kewajibannya sederajat. Pola asuh ini menempatkan musyawarah sebagai
pilar dalam memecahkan berbagai persoalan anak yang didukung dengan komunikasi.
Pola asuh otoritatif juga menuntut anak untuk mandiri, tapi tetap
disertai dengan batas dan kendali orangtua. Melalui pola asuh ini, anak akan
merasa bahagia, percaya diri, dan mempunyai kendali diri yang baik. Manfaat
lainnya adalah anak bisa mengatasi stres,
punya keinginan untuk berprestasi, dan bisa lancar berkomunikasi. Dampak
positif lainnya, anak bisa mengambil keputusan dan siap menerima segala
konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dengan demikian, potensi yang dimiliki
anak dapat berkembang secara optimal dan menjadikan anak tidak takut untuk
terbuka kepada orangtua.
POLA
ASUH OTORITATIF SEBAGAI SARANA PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DALAM SETTING KELUARGA
Perkembangan
jaman menuntut manusia tidak hanya cerdas dalam intelektual namun juga
berkarakter. Karakter dibentuk melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter
yang utama dan pertama bagi anak adalah lingkungan keluarga. Dalam lingkungan
keluarga, anak akan mempelajari dasar-dasar perilaku yang penting bagi
kehidupannya kemudian. Karakter dipelajari anak melalui memodel para anggota
keluarga yang ada di sekitar terutama orang tua. Model perilaku keluarga secara
langsung maupun tidak langsung akan dipelajari dan ditiru oleh anak. Anak
memodel orang tua dalam keluarga bersikap, bertutur kata, mengekspresikan
harapan, tuntutan, dan kritikan satu sama lain, menanggapi dan memecahkan
masalah, serta mengungkapan perasaan dan emosinya. Model perilaku yang baik
akan membawa dampak baik bagi perkembangan anak demikian juga sebaiknya.
Keberhasilan
pembentukan karakter pada anak ini salah satunya dipengaruhi oleh model orang
tua dalam melaksanakan pola asuh. Pola asuh orang tua terbagi menjadi tiga
macam yaitu otoriter, permisif, dan otoritatif. Masing-masing pola asuh ini
mempunyai dampak bagi perkembangan anak. Pola asuh otoritatif menjadi jalan
terbaik dalam pembentukan karakter anak. Karena pola asuh otoritatif ini
bercirikan orang tua bersikap demokratis, menghargai dan memahami keadaan anak
dengan kelebihan kekurangannya sehingga anak dapat menjadi pribadi yang matang,
supel, dan bisa menyesuaikan diri dengan baik.
Model
perilaku orang tua secara langsung maupun tidak langsung akan dipelajari dan
ditiru oleh anak. Orang tua merupakan lingkungan terdekat yang selalu
mengitarinya dan sekaligus menjadi figur dan idola anak. Bila anak melihat
kebiasaan baik dari orang tuanya maka anak akan dengan cepat mencontohnya,
demikian sebaliknya bila orang tua berperilaku buruk maka akan ditiru
perilakunya oleh anak-anak. Anak meniru bagaiman orang tua bersikap, bertutur
kata, mengekspresikan harapan, tuntutan, dan kritikan satu sama lain,
menanggapi dan memecahkan masalah, serta mengungkapan perasaan dan emosinya.
Model
perilaku yang baik akan membawa dampak baik bagi perkembangan anak demikian
juga sebaiknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1978) yang menyatakan
bahwa perlakuan orang tua terhadap anak akan mempengaruhi sikap anak dan
perilakunya. Sikap orang tua sangat menentukan hubungan keluarga sebab sekali
hubungan terbentuk, ini cenderung bertahan. Peran orang tua menurut Norman
(1996) bila orang tua memahami anak dengan baik dan mengenali sikap dan
bakatnya yang unik, mengembangkan dan membina kepribadiannya tanpa memaksanya
menjadi orang lain. Dalam berkomunikasi pada anak hendaknya tidak mengancam dan
menghakimi tetapi dengan perkataan yang mengasihi atau memberi dorongan/
memotivasi supaya anak mencapai keberhasilan dalam pembentukan karakter anak.
PENDIDIKAN
KARAKTER
Karakter
yang kuat diperlukan bagi individu dalam menetukan keberhasilan hidupnya.
Karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi
pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan
penggerak, serta yang membedakan dengan individu lain (Furqon, 2010). Karakter
dibentuk melalui proses berkesinambungan yaitu pendidikan karakter. Pendidikan
karakter ini bertujuan untuk dapat membentuk watak/ kepribadian anak bangsa
sesuai yang tercantum pada UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan
nasional (sisdiknas) pasal 3 beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak
mulia, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
tanggung jawab.
Pendidikan
karakter diberikan pada anak berdasarkan karakteristik dan tahap
perkembangannya. Menurut Furqon (2010) dapat diklasifikasikan dalam tahap-tahap
sebagai berikut:
1.
Adab (5-6 tahun) Pada fase ini, anak dididik
budi pekerti, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter: jujur (tidak
berbohong), mengenal mana yang benar dan mana yang salah, mengenal mana yang
baik dan mana yang buruk, serta mengenal mana yang diperintah (yang dibolehkan)
dan mana yang dilarang (yang tidak boleh dilakukan). Fase ini anak dididik
mengenai karakter benar dan salah, karakter baik dan buruk. Lebih meningkat
lagi apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
2.
Tanggung jawab diri (7-8 tahun) Perintah
agar anak usia 7 tahun mulai menjalankan sholat menunjukkan bahwa anak mulai
dididik untuk bertanggung jawab, terutama dididik bertanggung jawab pada diri
sendiri. Anak mulai diminta untuk membina dirinya sendiri, anak mulai dididik
untuk memenuhi kebutuhan dan kewajiban dirinya sendiri. Anak dididik untuk
tertib dan disiplin termasuk beribadah.
3.
Caring-peduli (9-10 tahun) Setelah anak
dididik tentang tanggung jawab diri, maka selanjutnya anak dididik untuk mulai
peduli pada orang lain, terutama teman-teman sebaya yang setiap hari ia
bergaul. Menghargai orang lain (hormat kepada yang lebih tua dan menyayangi
kepada 4 yang lebih muda), menghormati hak-hak orang lain, bekerja sama di
antara teman-temannya, serta membantu dan menolong orang lain, merupakan
aktivitas yang sangat penting pada masa ini. Pada usia ini, anak mulai
dilibatkan dengan nilai-nilai kepedulian dan tanggung jawab pada orang lain,
yaitu mengenai aspek kepemimpinan.
4.
Kemandirian (11-12 tahun) Berbagai
pengalaman yang telah dilalui pada usia-usia sebelumnya makin mematangkan
karakter anak sehingga akan membawa anak kepada kemandirian. Pada masa ini,
anak sudah mulai dilatih untuk berpisah tempat tidur dengan orang tuanya. Pada
fase kemandirian ini berarti anak telah mampu menerapkan terhadap hal-hal yang
menjadi perintah dan yang menjadi larangan, serta sekaligus memahami
konsekuensi resiko jika melanggar aturan.
5.
Bermasyarakat (13 tahun ke atas) Tahap ini
merupakan tahap di mana anak dipandang telah siap memasuki kondisi kehidupan di
masyarakat. Anak diharapkan telah siap bergaul di masyarakat dengan berbekal
pengalaman-pengalaman yang dilalui sebelumnya. Setidak-tidaknya ada dua nilai
penting yang harus dimiliki anak walaupun masih bersifat awal atau belum
sempurna, yaitu integritas dan kemampuan beradaptasi. Intervensi orang tua
sebagai pendidik pada lingkungan keluarga sangat berperan dalam pembentukan
karakter anak sejak dini. Tahap-tahap dalam pendidikan karakter ini hendaknya
dapat dilakukan dengan baik sehingga pada tingkat usia berikutnya tinggal menyempurnakan
dan mengembangkannya. Orang yang memiliki karakter kuat, akan memiliki
kesempatan untuk mencapai tujuan, sebaliknya orang yang memiliki karakter mudah
goyah akan lebih lamban untuk bergerak dan tidak bisa menarik kerjasama
dengannya.
LINGKUNGAN
KELUARGA
Peran
dan pengaruh lingkungan keluarga dalam pembentukan karakter ini penting
dikarenakan lingkungan keluarga memiliki keistimewaan. Keistimewaan
dilingkungan keluarga oleh Wahab (1999) diuraikan sebagai berikut:
1.
Keluarga lajimnya merupakan pihak yang
paling awal memberikan banyak perlakuan kepada anak. Begitu anak lahir,
lajimnya pihak keluargalah yang langsung menyambut dan memberikan layanan
interaktif kepada anak. Apa yang dilakukan dan diberikan oleh pihak keluarga
menjadikan sumber perlakuan pertama yang akan mempengaruhi pembentukan
karakteristik pribadi dan perilaku anak.
2.
Sebagian besar waktu anak lajimnya
dihabiskan di lingkungan keluarga. Besarnya peluang dan kesempatan interaksi
dalam keluarga akan sangat mempengaruhi perkembangan anak. Jika kesempatan yang
banyak ini diisi dengan hal-hal yang bermakna dan positif bagi perkembangan
anak, maka kecenderungan pengaruhnya menjadi positif pula.
3.
Karakteristik hubungan orang tua-anak
berbeda dari hubungan anak dengan pihak-pihak lainnya (guru, teman dan
sebagainya). Kepada orangtua, disamping anak memiliki ketergantungan secara
materi, anak juga memiliki ikatan psikologis tertentu yang sejak dalam
kandungan sudah dibangun melaui jalinan kasih sayang dan pengaruh-pengaruh
normatif tertentu.
4.
Interaksi kehidupan orang-tua anak di
rumah bersifat “asli” seadanya dan tidak dibuat-buat. Perilaku yang ditampilkan
dalam keluarga adalah perilaku wajar dan tidak di buat-buat. Peran keluarga
selain lebih banyak bersifat memberikan dukungan belajar yang kondusif juga
memberikan pengaruh pada pembentukan karakter anak, seperti pembentukan
perilaku, sikap dan kebiasaan, penanaman nilai, dan perilaku-perilaku sejenis.
Radin
dalam Wahab (1999) menjelaskan enam kemungkinan cara yang dilakukan orang tua
dalam mempengaruhi anak yaitu melalui:
1.
Pemodelan perilaku (modeling of behavior).
2.
Memberikan ganjaran dan hukuman (giving
rewards and punisment)
3.
Perintah langsung (direct instruction)
4.
Menyatakan peraturan-peraturan (stating
rules)
5.
Nalar (reasoning)
6.
Menyediakan fasilitas atu bahan-bahan dan
adegan (providing materials and setting)
DAMPAK
POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERILAKU ANAK
Perkembangan
anak pada umumnya meliputi keadaan fisik, emosional, sosial dan intelektual.
Bila kesemuanya berjalan secara harmonis maka dapat dikatakan bahwa anak
tersebut dalam keadaan sehat jiwanya, fisik, sosial dan intelektualnya. Selain
itu, nilai-nilai sosial, norma agama, serta prinsip hidup yang
diinternalisasikan melalui persinggungan dan interaksi sosial anak yang intensif
dengan anggota keluarga akan lebih mudah menancap kuat di alam kesadaran anak
yang kelak akan menjadi sistem kontrol internal bagi perilaku mereka.
Secara
umum dikatakan anak adalah seorang yang dilahirkan dari perkawinan antara
seorang perempuan dengan seorang laki-laki, termaksud anak yang dilahirkan
tidak melalui pernikahan tetap dikatakan anak. Anak juga merupakan cikal bakal
lahirnya suatu generasi baru yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa
dan sumber daya manusia bagi pembangunan Nasional. Anak adalah aset bangsa.
Masa depan bangsa dan Negara dimasa yang akan datang berada di tangan anak
sekarang. Semakin baik keperibadian anak sekarang maka semakin baik pula
kehidupan masa depan bangsa. Begitu pula sebaliknya, Apabila keperibadian anak
tersebut buruk maka akan bobrok pula kehidupan bangsa yang akan datang.
Dalam
konteks ini, orang tua adalah pemegang kendali utama tanggung jawab atas proses
pembentukan karakter anak. Kita tidak dapat menutup mata misalnya, bahwa saat
ini terjadi pergeseran nilai kesusilaan pada masyarakat mengenai terminologi
patut dan tidak patut. Di level itu, peran orang tua menjadi sangat penting
untuk memberikan pemahaman kepada anak sebagai bekal utama sebelum mereka
terjun ke masyarakat melalui sekolahan dan media interaksi sosial lainnya.
Karena itu, teladan sikap orang tua sangat dibutuhkan bagi perkembangan
anak-anak mereka. Hal ini penting karena pada fase perkembangan manusia, usia
anak adalah tahapan untuk mencontoh sikap dan perilaku orang di sekitar mereka.
Nilai-nilai agama yang dianut orang tua juga menjadi salah satu hal yang
penting yang ditanamkan orang tua pada anak dalam pengasuhan yang mereka
lakukan sehingga lembaga keagamaan juga turut berperan didalamnya.
Kepribadian
dalam mengasuh anak orang tua bukan hanya mampu mengkomunikasikan fakta,
gagasan dan pengetahuan saja, melainkan membantu menumbuhkembangkan kepribadian
anak. Pendapat tersebut merujuk pada teori Humanistik yang menitikberatkan
pendidikan bertumpu pada peserta didik, artinya anak perlu mendapat perhatian
dalam membangun sistem pendidikan. Apabila anak telah menunjukkan gejala-gejala
yang kurang baik, berarti mereka sudah tidak menunjukkan niat belajar yang
sesungguhnya. Kalau gejala ini dibiarkan terus akan menjadi masalah di dalam
mencapai keberhasilan belajarnya. Jumlah anak yang dimiliki keluarga akan
mempengaruhi pola asuh yang diterapkan orang tua. Semakin banyak jumlah anak
dalam keluarga, maka ada kecenderungan bahwa orang tua tidak begitu menerapkan
pola asuh secara maksimal pada anak karena perhatian dan waktunya terbagi
antara anak yang satu dengan anak yang lainnya.
Orang
tua bertugas sebagai pengasuh, pembimbing, pemelihara dan sebagai pendidik
terhadap anak-anaknya. Setiap orang pasti menginginkan anak-anaknya menjadi manusia
yang berakhlak. Akan tetapi banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara
mereka mendidik membuat anak merasa tidak diperhatikan, dibatasi kebebasannya,
bahkan ada yang merasa tidak disayang oleh orang tuanya. Perasaan-perasaan
itulah yang banyak mempengaruhi sikap, perasaan, cara berpikir bahkan
kecerdasan mereka.
Kesimpulan
Keluarga
merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang posisi strategis bagi
perkembangan kepribadian anak. keluarga yang ideal akan membentuk
pribadi-pribadi anak-anak yang ideal pula dan pada akhirnya anak-anak yang
ideal akan mewujudkan masa depan masyarakat dan Negara yang ideal juga.
Perwujudan kesejahteraan keluarga tidak terlepas dari pelaksanaan fungsi-fungsi
keluarga yaitu dalam suatu keluarga diharapkan ada suatu keharmonisan, hubungan
yang penuh kemesraan dan kasih sayang yang merupakan dambaan setiap orang.
Keharmonisan tersebut akan diperlihatkan melalui jalinan relasi baik yang
bersifat fisik maupun relasi psikis.
Nah itu dia insight baru tentang Pola Asuh Otoritatif, semoga menambah wawasan baru untuk Great People ya! Thank you :)
===============================================
Jangan lupa tinggalkan jejak, h3h3
Instagram : Mega Widya (@immegaw) • Instagram photos and videos
Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCnWgO0A8YQLuUAdYjWYzSSw
TikTok : https://www.tiktok.com/@airahime?is_from_webapp=1&sender_device=pc
Comments
Post a Comment